DASAR-DASAR PEMAHAMAN

 

Tentang Jenis-jenis Sifat

Untuk memahami berbagai jenis sifat, terlebih dahulu harus mengenal tentang istilah ‘perilaku’. Istilah ‘perilaku’ sendiri digunakan untuk menjelaskan tindakan yang bisa terlihat pada seseorang, seperti bagaimana cara ia mengerjakan sesuatu, cara berbicara, cara berpakaian, gerak tubuh, nada bicara hingga cara mengekspresikan respon terhadap suatu kondisi.

Ketika seseorang terus melakukan sebuah tindakan secara konsisten maka akan terlihat sebuah pola yang disebut sebagai sifat. Sifat tersebut biasanya akan terus konsisten dalam jangka waktu yang panjang. Harus diingat kalau yang dimaksud sebagai sifat adalah sebuah perilaku yang khas. Setiap orang bisa saja mengeluarkan beragam emosi namun yang dianggap sebagai sifat hanyalah sesuatu yang khas dari orang tersebut.

Seseorang bisa saja melakukan hal yang unik atau di luar karakter aslinya, tergantung pada situasi yang ia hadapi. Misalnya John yang mungkin tiba-tiba marah di kantor meski biasanya ia selalu tenang dan sabar. Namun hal itu terjadi karena di hari tersebut John ternyata baru saja putus dengan pacarnya, sebuah alasan yang mungkin anda tidak tahu. Alasan tersebut kemudian memengaruhi pola perilakunya secara keseluruhan dan membuat ia bertindak di luar karakter aslinya.

Penting untuk dimengerti kalau semua sifat itu sebenarnya netral, tidak ada sifat yang lebih baik dari yang lain. Penggunaan sifat yang berbeda akan muncul tergantung pada situasi yang dihadapi, posisi seseorang dalam situasi tersebut, pengalaman unik yang dimiliki oleh orang tersebut serta seberapa kuat orang itu mampu menahan tekanan.

 

Mengenal Kepribadian vs Stereotip

Stereotip adalah tindakan menghakimi kalau seseorang pasti akan melakukan tindakan tertentu tanpa mempedulikan situasi yang ia hadapi serta pengalaman pribadi dan nilai-nilai moral yang ia bawa. Sedangkan mengenal kepribadian hanya menjelaskan kecenderungan perilaku. Dengan kata lain, tidak semua orang dengan kepribadian yang sama akan menunjukkan tindakan yang sama pula. Bahkan jika mereka melakukan hal yang sama sekalipun intensitasnya akan berbeda. Kami hanya bisa menjelaskan kecenderungan atau kemungkinan tindakan yang akan diambil oleh orang tersebut namun tidak bisa menyatakan secara pasti tanpa mempertimbangkan pengalaman pribadi atau situasi yang tengah dihadapi orang tersebut.

 

Lingkungan Kerja vs Lingkungan Pribadi

Seseorang bisa mengalami perubahan perilaku dari waktu ke waktu terutama ketika mereka berpindah dari lingkungan kerja ke lingkungan pribadi. Hal ini paling mudah terlihat dari cara berpakaian. Ketika seseorang berada di tempat kerja mereka akan berpakaian secara profesional. Tapi begitu keluar dari kantor maka mereka akan berganti dengan pakaian yang lebih nyaman.

Lingkungan dan situasi yang tengah dihadapi seseorang pun bisa menentukan intensitas dari tindakan yang ia ambil. Contohnya seseorang yang tidak ekspresif di kantor mungkin akan lebih mudah mengekspresikan emosi di rumah. Fenomena seperti ini hanyalah perubahan dari intensitas perilaku bukan perubahan dari sifat orang tersebut.

Ambil contoh seorang manajer bernama Joe. Joe mungkin akan bersikap lebih tegas di kantor karena ia harus memberi perintah dan mengkoordinasi bawahan yang merupakan bagian dari pekerjaannya. Namun Joe tidak akan terlalu tegas ketika ia tengah bersama dengan rekan kerjanya atau ketika ia tengah berdiskusi dengan atasannya.

 

Kompetensi, Nilai Moral, dan Dorongan Alami untuk Melindungi

Penting untuk dimengerti kalau kompetensi, nilai moral serta dorongan untuk melindungi yang dimiliki oleh seseorang tidak bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam alat pengenal kepribadian mana pun. Faktor-faktor tersebut berbeda untuk setiap orang dan bisa berubah dalam waktu singkat.

Kompetensi adalah pemahaman tentang sebuah topik atau keahlian dan kemampuan seseorang dalam mengaplikasikannya. Contohnya adalah orang yang tidak tahu cara mengemudikan mobil. Ia mungkin bisa mempelajarinya dalam waktu cepat dan kompetensi orang tersebut pun menjadi berubah.

Sedangkan nilai moral adalah nilai-nilai inti yang menggerakkan seseorang dalam tingkatan yang paling mendasar. Contohnya adalah nilai-nilai agama dan sosial seperti larangan untuk mencuri atau membunuh. Bagi orang yang memegang teguh nilai moral tersebut, mereka tidak akan melakukannya apa pun yang anda katakan kepada mereka. Bahkan pada situasi yang memungkinkan mereka untuk melakukannya seperti dalam perang atau kerusuhan.

Adapun dorongan untuk melindungi adalah insting dasar manusia. Contohnya seorang ibu yang akan selalu melindungi anaknya tanpa peduli hambatan yang dihadapi. Ini hanyalah insting dasar manusia.